Home Fiqih Memaksa Anak Perempuan Menikah, Bolehkah?

Memaksa Anak Perempuan Menikah, Bolehkah?

Pernikahan adalah ibadah yang sakral dan sekaligus menjadi ibadah terlama. Pernikahan pula adalah ibadah yang di bangun diatas kerjasama, komitmen dan kekompakan antara dua sejoli yang sama-sama mengharap ridha Allah swt.

Oleh karena itu, pernikahan harus dibangun diatas rasa suka sama suka dan saling ridha satu sama lain. suka sama suka disini bukan bermakna harus saling mengenal, akan tetapi adanya persetujuan dan ketertarikan antara kedua belah pihak.

Lantas jika pernikahan terjadi atas dasar paksaan, seperti seorang ayah yang memaksa putrinya untuk menikah dengan laki-laki tertentu, bolehkah perbuatan seperti ini dalam syariat?

Tidak Boleh Memaksa

Secara tegas rasulullah sallalahu alaihi wasalam melarang melalui sabdanya :

لا تُنْكَحُ اْلأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَكَيْفَ إِذْنُهَا؟ قَالَ: أَنْ تَسْكُتَ

“Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta musyawarahnya. Demikian seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah diminta ijinnya.” Para Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah ijinnya?” “Bila ia diam.” Jawab Rasulullah (HR. Bukhari)

Dalam hadis yang lain, Nabi shallahu’alaihiwasallam juga tegas mengatakan:

لثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا وَالْبِكْرُ يَسْتَأْذِنُهَا أَبُوهَا فِي نَفْسِهَا وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا

Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya.”(HR. Muslim)

Dari hadits tersebut jelas bahwa pernikahan yang dipaksakan kepada anak perempuan hukumnya adalah tidak boleh. Orang tua haruslah meminta izin terlebih dahulu kepada sang anak perempuan.

Maka dari itu, kepada anak perempuan yang dipaksa menikah oleh orang tuanya, ia diperbolehkan untuk menolaknya dan jangan sampai hanya berdiam diri saja namun ungkapkan karena diam adalah pertanda setuju.

Dari hadis-hadis di juga kemudian mayoritas ulama (Jumhur) seperti mazhab Hanafi, Imam Ahmad, Al-Auza’i, Ats-Tsauri, Abu Tsaur, Ibnul Mundzir, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyimpulkan, bahwa kerelaan seorang gadis untuk menerima lelaki yang meminangnya, adalah kewajiban. Memakasanya untuk menikah adalah perbuatan haram.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...

3 Jenis Api Dalam Islam

Api menurut sains adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menGhasilkan panas...

Orang Pertama Yang Masuk Syurga?

Sebelum memasuki syurga, para Ahli syurga akan terlebih dahulu melewati fase pensucian hati, Allah akan cabut dari hati mereka sifat dendam, iri dan penyakit-penyakit...

Apakah Jin Masuk Syurga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa Hal yang harus diketahui 1. Ada Golongan Jin Yang Beriman. Di dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman, وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ...