Home Fiqih Hukum Sholat Menggunakan Masker Karena Takut Tertular Penyakit

Hukum Sholat Menggunakan Masker Karena Takut Tertular Penyakit

Islam adalah agama yang sempurna, tidak ada satu hal pun yang luput dari perhatian agama islam; salah satunya adalah dari sisi kesehatan umatnya.

Islam begitu memperhatikan kesehatan, itu terbukti dengan banyaknya perintah untuk bersuci agar tubuh manusia selalu dalam keadaan bersih, dan kebersihan adalah pangkal dari kesehatan.

Menggunakan masker adalah hal yang mubah, bahkan jika ternyata masker dapat mengurangi resiko terkena polusi udara atau wabah penyakit menular melalui udara maka memakainya adalah suatu keharusan. Lantas apakah kebolehan memakai masker juga berlaku di dalam shalat?

Para ulama sepakat bahwa menutup mulut dalam shalat hukumnya makruh. Baik bagi laki-laki maupun wanita. Dihukumi makruh, mengingat adanya larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ فِي الصَّلَاةِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menutup mulutnya ketika shalat. (HR. Abu Daud)

Makruh Tidak Membatalkan Shalat

Artinya jika ada orang yang melakukannnya ketika shalat, shalatnya sah dan tidak perlu diulangi, sekalipun dia lakukan secara sengaja.

An-Nawawi menegaskan dalam kitabnya Majmu’ syarh Muhadzab:

ويكره أن يصلي الرجل متلثما أي مغطيا فاه بيده أو غيرها… وهذه كراهة تنزيه لا تمنع صحة الصلاة

Makruh seseorang melakukan shalat dengan talatsum, artinya menutupi mulutnya dengan tangannya atau yang lainnya…. Makruh disini adalah makruh tanzih (tidak haram), tidak menghalangi keabsahan shalat.

Makruh menjadi Mubah

Diantara kaidah yang ditetapkan para ulama dalam ushul Fiqh,

الكراهة تندفع مع وجود الحاجة

“Hukum makruh menjadi hilang, jika ada kebutuhan.”

Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mughni mengutip pendapat Ibnu Abdil Bar:

أجمعوا على أن على المرأة أن تكشف وجهها في الصلاة والإحرام، ولأن ستر الوجه يخل بمباشرة المصلي بالجبهة والأنف ويغطي الفم، وقد نهى النبي صلى الله عليه وسلم الرجل عنه. فإن كان لحاجة كحضور أجانب فلا كراهة، وكذلك الرجل تزول الكراهة في حقه إذا احتاج إلى ذلك

Para ulama sepakat bahwa wanita harus membuka wajahnya ketika shalat dan ihram, karena menutup wajah akan menghalangi orang yang shalat untuk menempelkan dahi dan hidungnya, dan menutupi mulut. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang lelaki untuk melakukan hal ini. Namun jika ada kebutuhan, misalnya ada banyak lelaki non mahram, maka hukumnya tidak makruh. Demikian pula lelaki, hukumnya menjadi tidak makruh jika dia butuh untuk menutupi mulutnya.

Sama seperti larangan shalat diantara dua tiang karena tiang akan memutus shaf shalat, namun jika ternyata jamaah penuh dan tidak ada tempat shalat kecuali diantara dua tiang, maka kemakruhan itu hilang.

Dengan demikian, hukum asal memakai masker ketika shalat adalah makruh, namun makruh bukanlah hal yang membatalkan shalat hanya saja baiknya ditinggalkan. Namun jika ternyata memakai masker ini adalah upaya untuk melindungi diri dari tertular wabah penyakit atau melindungi orang lain agar tidak tertular penyakit yang dideritanya maka ini dibolehkan bahkan di anjurkan.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Baca surat al Kahfi di hari jumat salah, Benarkah ?

Perlu diketahui bahwa secara umum ada beberapa riwayat yang menjelaskan tentang dianjurkan membaca surat-surat tertentu pada hari jumat, seperti surat Yasin, al Kahfi, dan...

Apa itu Hatibul Layl ?

  حاطب ليل Pencari kayu bakar di malam hari. Sebenarnya gelar ini digagas oleh para kritikus riwayat terhadap sekian banyak ulama dan perawi ketidak mampuannya dalam membedakan...

Istri-istri Nabi Muhammad

Bahwa sudah diketahui bersama, sebagaimana manusia biasa, Nabi juga bisa menikah. Dan perlu diketahui juga, bahwa fitrah dari makhluk adalah Allah jadikan mereka berpasang-pasangan....

Al Hafiz Jalaluddin Abdurrahman As Suyuthi

Nama beliau Abdurrahman bin al Kamal. Kuniyah beliau Abu al Fadhl, adapun laqob beliau Jalaluddin. Lahir pada malam ahad awal bulan Rajab tahun 849 H...