Home Khazanah Islam Jika Tidak Malu Berbuatlah Sesukamu

Jika Tidak Malu Berbuatlah Sesukamu

Malu merupakan bagian dari iman. Bukan berarti keimanan seseorang membuatnya menjadi pemalu dari berbaur dengan orang-orang di sekitarnya, akan tetapi keimanannya membuatnya malu untuk bermaksiat kepada Allah ta’aala.

Lucu dan mengherankan ketika seseorang tidak malu untuk bermaksiat padahal dia selalu berada dalam pengawasan Allah ta’ala. Allah melihat setiap gerak-geriknya, bahkan ketika dia sedang tertidur lelap pun Allah masih memperhatikannya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Dan Ia selalu bersama kalian dimanapun kalian berada”

Dalam ayat lain Allah berfiman:

يَعلَمُ خائِنَةَ الأَعيُنِ وَما تُخفِي الصُّدورُ

“Allah mengetahui pengkhianatan pandangan mata seseorang, serta mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati”

Bukan hanya mengetahui gerak-gerik manusia, namun lebih dari itu Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam pandangan mata seseorang. Terkadang sekalipun tubuh diam membisu namun mata bermaksiat dengan pandangannya dan Allah Mengetahui itu.

Bahkan lebih dari itu Allah mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati seseorang. Mungkin mata bisa terbaca dari pergerakan dan kedipannya, namun siapa yang bisa membaca hati seseorang? Jawabannya tentu tidak ada. Tidak ada pakar, psikolog, atau alat yang bisa membaca hati seseorang kecuali Allah ta’ala.

Sungguh yang bermaksiat adalah mereka yang sudah tidak punya malu, padahal malu adalah penghalang utama dari bermaksiat, dan sekaligus sifat terpuji warisan para nabi terdahulu.

Rasulullah sallalahu ‘alaihi wa salam:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الأُوْلى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Sesungguhnya yang diperoleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama adalah jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu. (H.R. Muslim)

Dalam hadist lain rasulullah bersabda:

الإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”.(H.R. Bukhari)

Malu adalah sifat terpuji, namun harus di tempatkan pada tempatnya. Malu dari berbuat kebaikan bukanlah sifat terpuji namun sifat tercela. Sementara malu dari berbuat maksiat adalah sifat terpuji dan bukan tercela. Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.

Irsyad Hidayat Lc.
Alumni Universitas Islam Muhammad Bin sa'ud Jakarta (LIPIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Istri-istri Nabi Muhammad

Bahwa sudah diketahui bersama, sebagaimana manusia biasa, Nabi juga bisa menikah. Dan perlu diketahui juga, bahwa fitrah dari makhluk adalah Allah jadikan mereka berpasang-pasangan....

Al Hafiz Jalaluddin Abdurrahman As Suyuthi

Nama beliau Abdurrahman bin al Kamal. Kuniyah beliau Abu al Fadhl, adapun laqob beliau Jalaluddin. Lahir pada malam ahad awal bulan Rajab tahun 849 H...

Menghayati Kandungan Surat Yusuf Ayat 86

by: Riza Ashfari Mizan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالى berfirman, قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah...

Menghindari Kematian?

Dalam Al-Qur’an Allah ta’ala berfirman كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian".  (Q.S. Ali Imran : 85) Salah satu hal yang paling ditakuti...